latar belakang

Proyek ini bertujuan untuk memulai riset, mendokumentasikan dan memublikasikan sejarah fotografi Indonesia sebagai pusat data—agar kita semua bisa mengakses pengetahuan tentang perkembangan fotografi Indonesia: foto apa saja yang pernah dibuat; siapa yang membuat; bagaimana relasinya dengan konteks sosial, politik, ekonomi dan budaya ketika itu; dan bagaimana dampaknya bagi hubungan fotografi sebagai medium komunikasi visual dengan publik yang menggunakannya.

Sejarah Foto memiliki penekanan pada aspek sejarah dan perkembangan fotografi Indonesia dari masa ke masa—itulah sebabnya data-data yang terkumpul akan diwujudkan dalam bentuk linimasa. Kemudian, para fotografer akan menjadi pintu masuk dalam mempresentasikan linimasa tersebut—karena bagaimana pun, para fotografer-lah yang memilih foto dan cara penyampaiannya. Melalui catatan mengenai para pelakunya, data sejarah fotografi di Indonesia akan mampu memberikan gambaran mengenai berbagai segi perkembangan fotografi Tanah Air.

Proyek ini merupakan usaha non-profit yang berangkat dari kegelisahan karena melihat betapa kurangnya sumber, referensi serta rujukan yang bisa diperoleh publik umum tentang sejarah fotografi Indonesia. Dengan Sejarah Foto, diharapkan kita bisa mulai melangkah maju dan kemudian menghasilkan produk-produk lainnya—baik yang akan dilakukan oleh pengelola Sejarah Foto atau pun pihak lain yang ingin menggunakan proyek ini sebagai sumber rujukan.

Kami adalah:

Andrew Linggar lulus sebagai arsitek pada 1996. Andrew kerap terlibat dalam pengelolaan beragam pameran, seperti dalam Jakarta Biennale 2009 dan 2011, pameran foto Perayaan 60 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Portrait from the Region oleh World Bank di Erasmus Huis, pameran tunggal fotografi dan penerbitan buku Desi Anwar, A Romantic Journey; dan beragam kegiatan seni rupa lainnya.

Irma Chantily adalah penikmat fotografi, meski sama sekali bukan fotografer. Beberapa kali menulis tentang fotografi di media massa cetak dan online. Pernah menjadi ko-kurator dalam pameran foto Mendamba Tubuh (2010) dan Jakarta International Photo Summit (2010); menulis untuk pameran foto Overpriced/Underpriced (2009), dan sebagainya. Walau belum cukup sering atau pun mahir, Irma juga gemar melibatkan diri pada beberapa proyek penelitian fotografi Indonesia.

Lisabona Rahman sering terlibat dalam pameran foto sebagai kepala proyek, penulis atau pun kurator, milsanya dalam Mata Perempuan (2005) dan Mendamba Tubuh (2010). Ia juga terlibat dalam pameran serta penerbitan buku fotografi Yang Tercinta (2005). Sejak 2003, Lisa kerap menulis tentang film, menjadi programmer film, dan editor katalog online film Indonesia. Hingga pertengahan 2011 Lisa bekerja sebagai manajer program Kineforum, Dewan Kesenian Jakarta. Saat ini ia sedang mengejar gelar master di program Preservation and Presentation of the Moving Image, Iniversiteit van Amsterdam, Belanda, sambil terus turut mengelola proyek ini dari seberang lautan.